Dunia ini penuh dengan pertukaran. Mulai dari pertukaran sederhana antara panas-dingin hingga pertukaran kompleks seperti kepemilikan tubuh atas ruhnya. Semuanya serba bertukar. Seperti keniscayaan yang tak terbantah. Menggulung semua kestabilan. Mendinamiskan kemandegan. Memutar diam dalam pola perubahan rancak. Hingga genangan kehidupan ini terus-menerus beriak, bergelombang, dan bercipratan.
Mengapa manusia tak siap? Karena kebanyakan manusia ga’ tau, bahwa sudah waktunya hal tersebut bertukar. Logikanya sederhana. Seperti siang yang bertukar dengan malam, begitu juga sebaliknya, sesimpel itu. Tak ada yang mampu menghalangi pertukaran, kecuali Sang pencipta.
Kebanyakan manusia bertanya, “kenapa aku tua?”, “kenapa dia mati?”, “kenapa aku yang dahulu populer sekarang tidak?”, dan sebagainya. Jelas jawabannya, “sudah saatnya bertukar”. Sudah saatnya muda, hidup, dan populer bertukar dengan tua, mati dan marginal. Semua itu wajar.
Alangkah lucunya ketika kita meratapi siang dan malam. Lalu bertanya, “kenapa siang telah berakhir?”. Jelas siang berakhir karena sudah saatnya bertukar. Lantas mengapa mudah memahami siang-malam, tetapi sulit memahami pertukaran hidup, muda, dan populer. Aneh, logika yang sama persis tetapi butuh power yang lebih pada salah satunya. Manusia memang sering lupa.
Usaha manusia untuk mempertahankan dan menerobos garis pertukaran itu hanya akan memancing ketidak-beruntungan. Dampak-dampak negatif akan terasa karena perlawanan kodrat.
This is default featured post 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Minggu, 17 Oktober 2010
Senin, 20 September 2010
Kemiskinan, Shadaqah, dan Takdir
Pagi yang dingin menyelimuti. Di depanku orang-orang berseliweran bak kuda-kuda liar yang berlomba-lomba memasuki finish. Ada yang membawa koper, tas, dan tak jarang membawa troly dengan dus-dus di atasnya. Mereka semua necis, kebanyakan gaul dan glamour. Pemandangan yang sangat yang tak lazim kutemui di stasiun tugu atau terminal jombor Yogyakarta. Jelas saja, di sini di bandara. Tempat manusia-manusia mapan datang dan pergi dengan sayapnya, terbang menembus ketinggian.
Sistem kehidupan seolah tak adil. Aku sering membayangkan bagaimana jika aku yang jadi mereka. Melihat ke dalam bandara, memandang tinggi pada pesawat yang terbang, tanpa bisa merasakan keadaan itu. Hanya bisa membeli tiket kereta, itupun ekonomi. Ketika di dalam gerbong para penjual lewat, bukannya membeli, mereka malah saling sapa. ‘sederajat’, mungkin itu pikir mereka.
Hmph.. apakah kodrat dunia memang seperti ini? Ada yang kaya ada yang miskin. Ada yang baik ada yang jahat. Ada yang buruk ada pula yang rupawan. Semua serba kebalikan, paradoks, dan berlawanan. Jika Tuhan menciptakan dunia memang seperti ini buat apa mengusahakan untuk memeratakannya. Toh, Sunnatullah mengatakan bahwa dunia ini memang diciptakan berbeda-beda. Wajar.
Hati kecilku berontak. Apa benar Tuhan begitu tega membiarkan seorang hamba lapar tanpa makan tiga hari. Atau berjalan lalu lalang tanpa pakaian yang pantas. Dan bahkan harus tinggal di kolong-kolong jembatan, kepanasan di perempatan jalan, atau tumbuh dalam pendidikan yang terputus hanya karena masalah biaya. Sebenarnya itu takdir Tuhan atau kesalahan sistem? Ini ukiran tangan Tuhan atau jeleknya gambar manusia???
Sistem kehidupan seolah tak adil. Aku sering membayangkan bagaimana jika aku yang jadi mereka. Melihat ke dalam bandara, memandang tinggi pada pesawat yang terbang, tanpa bisa merasakan keadaan itu. Hanya bisa membeli tiket kereta, itupun ekonomi. Ketika di dalam gerbong para penjual lewat, bukannya membeli, mereka malah saling sapa. ‘sederajat’, mungkin itu pikir mereka.
Hmph.. apakah kodrat dunia memang seperti ini? Ada yang kaya ada yang miskin. Ada yang baik ada yang jahat. Ada yang buruk ada pula yang rupawan. Semua serba kebalikan, paradoks, dan berlawanan. Jika Tuhan menciptakan dunia memang seperti ini buat apa mengusahakan untuk memeratakannya. Toh, Sunnatullah mengatakan bahwa dunia ini memang diciptakan berbeda-beda. Wajar.
Hati kecilku berontak. Apa benar Tuhan begitu tega membiarkan seorang hamba lapar tanpa makan tiga hari. Atau berjalan lalu lalang tanpa pakaian yang pantas. Dan bahkan harus tinggal di kolong-kolong jembatan, kepanasan di perempatan jalan, atau tumbuh dalam pendidikan yang terputus hanya karena masalah biaya. Sebenarnya itu takdir Tuhan atau kesalahan sistem? Ini ukiran tangan Tuhan atau jeleknya gambar manusia???
Minggu, 19 September 2010
Janji Pasir
“aku mengenal dikau
tlah cukup lama separuh usiaku
namun begitu banyak
pelajaran yang aku terima
segala kebaikan
takkan terhapus oleh kepahitan
ku lapangkan resah jiwa
karna ku percaya kan berujung indah
kau membuatku mengerti hidup ini
kita terlahir bagai selembar kertas putih
tinggal ku lukis dengan tinta pesan damai
dan terwujud harmoni”
(padi, harmoni)
tlah cukup lama separuh usiaku
namun begitu banyak
pelajaran yang aku terima
segala kebaikan
takkan terhapus oleh kepahitan
ku lapangkan resah jiwa
karna ku percaya kan berujung indah
kau membuatku mengerti hidup ini
kita terlahir bagai selembar kertas putih
tinggal ku lukis dengan tinta pesan damai
dan terwujud harmoni”
(padi, harmoni)
Minggu, 05 September 2010
19/5/2010
Mulai menulis lagi, setelah beberapa saat aku berhenti meletakkan gagasan di atas tinta. Aku hanya sakit hati dengan kata, aku kecewa. Dia tak meluncur sebaik aku memikirkannya. Jika aku tak sabar, sudah kumaki saja dia.
Tapi mungkin aku terlalu jahat, menyalahkan sebuah kata yang suci dan tak bernoda. Sesungguhnya, akulah yang salah. Aku yang tak bisa mengerti apa kemauan kata, hanya memikirkan diriku sendiri, dan memaksakan keinginanku terhadap kata.
Maafkan aku kata, Insya Allah, aku ingin berubah. Aku ingin memperlakukanmu murni sebagai kata.
Hari ini aku cukup terenyuh, dengan sebuah kejadian yang luar biasa. "The saftier of the day".
Tapi mungkin aku terlalu jahat, menyalahkan sebuah kata yang suci dan tak bernoda. Sesungguhnya, akulah yang salah. Aku yang tak bisa mengerti apa kemauan kata, hanya memikirkan diriku sendiri, dan memaksakan keinginanku terhadap kata.
Maafkan aku kata, Insya Allah, aku ingin berubah. Aku ingin memperlakukanmu murni sebagai kata.
Hari ini aku cukup terenyuh, dengan sebuah kejadian yang luar biasa. "The saftier of the day".
Langganan:
Postingan (Atom)







