Malam yang cerah, 30 Juli 2010, pengganti siang yang gelap hari ini. Jangan salah bung! Kegelapan dan kecerahan bukan semata-mata masalah cahaya lampu atau matahari. Jadi ga ada salahnya kalo kita bilang siang hari ini gelap dan malam ini justru cerah.
Pencerahan itu ada di dalam hati. Mendung yang paling pekat sekalipun akan jauh lebih terasa ringan dibandingkan dengan hujan badai dalam hati seorang manusia. Mendungnya alam bisa kita hadapi dengan bersembunyi dalam kehangatan rumah. Tapi hujan badai hati? di mana kita bisa mencari dan menemukan kehangatan untuk berlindung?
Cinta. Ooh, mungkin itulah kehangatan yang dicari. Letupan api kecilnya menyentik selapis kulit yang kedinginan. Jangankan hujan badai dalam hati, bahkan gemuruh langit hati pun akan ditenangkan oleh merdunya bisikan cinta. So sweett...
This is default featured post 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Jumat, 30 Juli 2010
Kamis, 29 Juli 2010
Publik vs Private
Sulit rasanya memilah ranah publik dengan ranah private dalam kehidupan kita. Padahal parameter itu digunakan untuk menentukan seberapa dewasa diri kita. Tanpa pemilahan yang tepat, tugas dan amanah yang kita panggul tak akan terlaksana dengan baik. Bayangkan jika sebuah organisasi yang terbagi dalam beberapa fungsi tak mampu melakukan aktivitasnya hanya karena konflik pribadi yang terjadi dalam internal masing-masing anggota.
Dalam budaya asing, hal seperti itu sulit ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Mereka bisa saja semalaman suntuk mabuk-mabukan dan tak tidur. Akan tetapi di waktu pagi tiba-tiba mereka bangkit dan menghadiri rapat penting dengan jas, kemeja dan celana kain rapi serta paras bersih dan rambut yang tersusun rapi. Hampir tak ada bekas bahwa mereka semalaman mabuk-mabukan.
Dalam budaya asing, hal seperti itu sulit ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Mereka bisa saja semalaman suntuk mabuk-mabukan dan tak tidur. Akan tetapi di waktu pagi tiba-tiba mereka bangkit dan menghadiri rapat penting dengan jas, kemeja dan celana kain rapi serta paras bersih dan rambut yang tersusun rapi. Hampir tak ada bekas bahwa mereka semalaman mabuk-mabukan.
Kamis, 22 Juli 2010
Rapuh
Setiap orang bisa begitu bodoh di hadapan dirinya sendiri. Aku pernah mendengar bahwa musuh terberat seorang pemimpin bukanlah orang lain, tetapi justru dirinya sendiri. Hati adalah ruh, yang mampu menjatuhkan tiang pancang tertinggi dalam sekali tebas. Aku rapuh, sangat rapuh.
Aku bahagia di tempat ini. Tapi di dalam kebahagiaan itu seperti ada bara yang menyengat dan melukai. Perih. Mungkin tipis, tapi hingga sekarang luka itu belum sembuh. Luka itu kecil, tetapi dalam. Aku ingin sembuh.
Ternyata keindahan tidak hanya mampu mendatangkan manis tetapi juga kepahitan. Entah aku menganggapnya apa. Yang jelas dia bersarang kuat dalam pikiranku.
Ingin aku mengucapkan selamat tinggal padanya. Selamat tinggal pada keindahan. Karena yang aku terima darinya hanya pahit, bukan manis. Bukan salahnya. Sekali lagi aku katakan ini semua kesalahanku, murni. Pemuda rapuh yang kalah dalam perang melawan batinnya sendiri.
Aku bahagia di tempat ini. Tapi di dalam kebahagiaan itu seperti ada bara yang menyengat dan melukai. Perih. Mungkin tipis, tapi hingga sekarang luka itu belum sembuh. Luka itu kecil, tetapi dalam. Aku ingin sembuh.
Ternyata keindahan tidak hanya mampu mendatangkan manis tetapi juga kepahitan. Entah aku menganggapnya apa. Yang jelas dia bersarang kuat dalam pikiranku.
Ingin aku mengucapkan selamat tinggal padanya. Selamat tinggal pada keindahan. Karena yang aku terima darinya hanya pahit, bukan manis. Bukan salahnya. Sekali lagi aku katakan ini semua kesalahanku, murni. Pemuda rapuh yang kalah dalam perang melawan batinnya sendiri.
Minggu, 18 Juli 2010
Jasad, Ruh, dan Fikri,,,,
Setiap manusia memang memiliki kelebihannya masing. Kepercayaan ini mengatakan bahwa tak kan ada manusia yang memiliki berbagai kelebihan. Maka lebih baik menanamkan satu fokus yang bisa dicapai oleh manusia secara maksimal. Inilah yang terjadi dengan pendidikan modern yang mengkotak-kotakkan spesialisasi manusia dan memberikan mereka ruang kreatifitas dalam sistem.
Tadinya pun aku berpendapat seperti itu. Tapi pemikiranku mulai berubah. Tepatnya saat kami para mahasiswa melakukan segala program hampir sendirian. Dari mengumpulkan bahan kompos, mengaduk, memberikan zat tambahan, sampai proses penutupan. Semuanya kami lakukan sendiri, yang seharusnya dilakukan oleh warga.
Tapi di situlah kekuatan sebenarnya berada. Aku tiba-tiba teringat tentang konsep tarbiyah jasadiyah, ruhiyah, dan fikriyah yang dikenalkan oleh Hasan Al-Banna. Konsep komprehensifitas dari pengembangan secara maksimal seluruh potensi manusia. Mungkin ini yang membedakan kualitas gebrakan yang dimiliki oleh Rasulullah dan para sahabatnya dengan kita saat ini.
Salah satu contoh, Ali, sahabat Rasulullah adalah sahabat yang dijuluki ‘gerbang ilmu’ Rasulullah. Dengan kepandaian seperti itu Ali juga seorang yang pandai berperang dan kuat dalam beribadah. Begitu juga dengan Umar Bin Khattab dengan seringai pedangnya tak melupakan kekuatan daya pikir dan kemegahan spiritualitas.
Mari kita bandingkan dengan orang-orang terbaik dunia saat ini. Apakah mereka memiliki kelebihan se-komprehensif para sahabat Rasul dahulu? Sepertinya tidak. Sistem pendidikan yang saat ini digulirkan memaksa cetakan manusia-manusia spesialis yang buta terhadap lingkungan sekitarnya.
Dalam proses perubahan, jelas manusia-manusia seperti ini tidak mampu diharapkan. Dalam kungkungan tirani, perubahan hanya akan tercipta dari dobrakan manusia-manusia mandiri yang berkualitas.
Kungkungan militer dan ekonomi Israel kepada Palestina hanya bisa dirubah dengan kemandirian dan kualitas pejuang-pejuang Palestina. Dengan kecerdasan mereka menata, merencanakan, dan memikirkan. Dengan kekuatan spiritualitas mereka bertahan dan tegar dalam menghadapi berbagai rintangan. Dan dengan kekuatan fisik mereka berperang serta melaksanakan rencana dan hasil pemikiran mereka.
Jika ada pertanyaan kapan Indonesia bisa maju? Mungkin dengan konsep ini aku bisa menjawabnya. Yaitu saat Indonesia berhasil mencetak generasi penerus yang masing-masingnya memiliki kekuatan jasad, ruh, dan fikriyah.
Sejujurnya kemarin aku kelelahan saat mengangkat bahan pembuatan kompos. Dan tambah kelelahan saat terjun dalam proses pembuatan kompos. Mahasiswa-mahasiswa dengan kecerdasannya akhirnya dipaksa berkontribusi dengan kekuatan fisiknya. Jika dengan dua potensi saja kami mahasiswa sudah kelelahan, bagaimana jika ditambah dengan pengembangan potensi spiritual? Dan jika dengan level seperti itu kami sudah sangat kelelahan, bagaimana dengan level para sahabat nabi?
Oh.... di situlah indahnya. Tarbiyah menyejarah. Jalan ini memang masih sangat panjang. Karena tujuan yang ingin kita capai akan jauh melampaui usia kita sendiri.
Tadinya pun aku berpendapat seperti itu. Tapi pemikiranku mulai berubah. Tepatnya saat kami para mahasiswa melakukan segala program hampir sendirian. Dari mengumpulkan bahan kompos, mengaduk, memberikan zat tambahan, sampai proses penutupan. Semuanya kami lakukan sendiri, yang seharusnya dilakukan oleh warga.
Tapi di situlah kekuatan sebenarnya berada. Aku tiba-tiba teringat tentang konsep tarbiyah jasadiyah, ruhiyah, dan fikriyah yang dikenalkan oleh Hasan Al-Banna. Konsep komprehensifitas dari pengembangan secara maksimal seluruh potensi manusia. Mungkin ini yang membedakan kualitas gebrakan yang dimiliki oleh Rasulullah dan para sahabatnya dengan kita saat ini.
Salah satu contoh, Ali, sahabat Rasulullah adalah sahabat yang dijuluki ‘gerbang ilmu’ Rasulullah. Dengan kepandaian seperti itu Ali juga seorang yang pandai berperang dan kuat dalam beribadah. Begitu juga dengan Umar Bin Khattab dengan seringai pedangnya tak melupakan kekuatan daya pikir dan kemegahan spiritualitas.
Mari kita bandingkan dengan orang-orang terbaik dunia saat ini. Apakah mereka memiliki kelebihan se-komprehensif para sahabat Rasul dahulu? Sepertinya tidak. Sistem pendidikan yang saat ini digulirkan memaksa cetakan manusia-manusia spesialis yang buta terhadap lingkungan sekitarnya.
Dalam proses perubahan, jelas manusia-manusia seperti ini tidak mampu diharapkan. Dalam kungkungan tirani, perubahan hanya akan tercipta dari dobrakan manusia-manusia mandiri yang berkualitas.
Kungkungan militer dan ekonomi Israel kepada Palestina hanya bisa dirubah dengan kemandirian dan kualitas pejuang-pejuang Palestina. Dengan kecerdasan mereka menata, merencanakan, dan memikirkan. Dengan kekuatan spiritualitas mereka bertahan dan tegar dalam menghadapi berbagai rintangan. Dan dengan kekuatan fisik mereka berperang serta melaksanakan rencana dan hasil pemikiran mereka.
Jika ada pertanyaan kapan Indonesia bisa maju? Mungkin dengan konsep ini aku bisa menjawabnya. Yaitu saat Indonesia berhasil mencetak generasi penerus yang masing-masingnya memiliki kekuatan jasad, ruh, dan fikriyah.
Sejujurnya kemarin aku kelelahan saat mengangkat bahan pembuatan kompos. Dan tambah kelelahan saat terjun dalam proses pembuatan kompos. Mahasiswa-mahasiswa dengan kecerdasannya akhirnya dipaksa berkontribusi dengan kekuatan fisiknya. Jika dengan dua potensi saja kami mahasiswa sudah kelelahan, bagaimana jika ditambah dengan pengembangan potensi spiritual? Dan jika dengan level seperti itu kami sudah sangat kelelahan, bagaimana dengan level para sahabat nabi?
Oh.... di situlah indahnya. Tarbiyah menyejarah. Jalan ini memang masih sangat panjang. Karena tujuan yang ingin kita capai akan jauh melampaui usia kita sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)







