This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 08 Januari 2011

Mudah Saja

Tuhan
Aku berjalan menyusuri malam
Setelah patah hatiku
Aku bedoa semoga saja
Ini terbaik untuknya

Dia bilang
Kau harus bisa seperti aku
Yang sudah biarlah sudah

Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja.. Lukamu seperti lukaku

Selang waktu berjalan kau kembali datang
Tanyakan keadaanku

Ku bilang
Kau tak berhak tanyakan hidupku
Membuatku semakin terluka

Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Coba saja lukamu seperti lukaku

Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja lukamu seperti lukaku

Rabu, 05 Januari 2011

Surat Untuk Sahabat



Sahabatku, bukan aku tak ingin memaafkan. Kalian dengar sendiri semua yang aku rasakan malam itu, di 1 Januari 2011. Karena itu tolong, biarkan keadaan ini berjalan seperti ini. Tak perlu kalian ikut masuk dalam kompleksnya masalah ini. Kenapa? Karena sakit itu ada di diriku sendiri, tidak pernah kalian rasakan. Betapa tidak adilnya jika kalian menuntut untukku melakukan seperti yang kalian harapkan, sementara hal itu sangat sulit untuk aku lakukan.

Jika kalian memang sahabat terbaikku, mengertilah. Kondisiku berbeda dengan kalian. Aku punya batas. Aku punya harga diri.

Aku tidak ingin kehilangan kalian. Karena buatku kalian anugerah yang sangat indah yang Dia berikan untukku. Kalian bukan sekedar sahabatku, tapi saudaraku. Aku mengerti kalian ingin semuanya baik-baik saja. Aku pun mengerti kalian ingin aku tak punya masalah dan bisa tertawa bersama kalian. Aku juga ingin seperti itu, tapi tidak saat ini. Tidak sekarang. Aku sudah bilang kan? Let it flow.

Kadang aku berpikir, mungkin masalah ini membuat persahabatan kita menjadi dinamis, rancak, dan berubah. Tapi ini tidak akan berjalan selamanya. Yakinlah. Mungkin nanti, ketika kita sudah saling berjuang sendiri-sendiri dan mendapatkan kebahagiaan sendiri-sendiri, lalu bertemu kembali, semua masalah ini akan sirna. Terhapus oleh rasa rindu yang menggelayut di hati kita semua. Saat itu, pasti yang ada hanya senyuman, tidak ada lagi dendam.

Jumat, 31 Desember 2010

Summary: "30 Tahun Reformasi Ekonomi di Indonesia: Transisi dariKebergantungan akan Sumber Daya Menuju Kemampuan Bersaing secaraInternasional"

Tulisan oleh Ali Wardhana, dirangkum oleh Nova Kurniawan



Selama 30 tahun terakhir struktur perekonomian Indonesia telah mengalami transisi luar biasa. Pada tahun 1967, Indonesia berada dalam situasi yang sangat kacau. Pendapatan per kapita turun sampai tingkat di bawah yang telah dicapai lima tahun sebelumnya, perekonomian hancur oleh hiper inflasi, sektor pertanian tidak dapat lagi menyediakan bahan pangan yang cukup untuk kebutuhan dalam negeri, dan kemiskinan menjadi nasib sebagian besar penduduk.

Pada saat itu ekspor Indonesia masih didominasi oleh minyak dan gas bumi serta beberapa produk utama lainnya. Sektor pertanian masih menyumbang sekitar 24% PDB. Namun pada 1994 PDB riil  tumbuh hingga 7,6% per tahun selama satu dekade dan industri nonmigas tumbuh sampai 20% dari PDB.

Reformasi utama yang dilakukan pada tahun 1965 fokus pada permasalahan stabilisasi. Dua bidang manajemen ekonomi makro yang diadopsi selama masa stabilisasi merupakan hal penting dalam memandu ekonomi sejak saat itu. Pertama, pemerintah orde baru mengharuskan ketelitian dalam hal anggaran belanja dengan mensyaratkan anggaran berimbang setiap tahun. Kedua, pada tahun 1970, pemerintah menyatakan bahwa rupiah akan menjadi mata uang yang sepenuhnya dapat ditukar, tanpa dibatasi arus jual beli valuta asing masuk atau keluar dari Indonesia.

Reformasi lain yang dilakukan adalah reformasi perpajakan. Pada tahun 1980an ekonomi menghadapi krisis serius. Ada penurunan tingkat ekspor riil sebesar 9% pada tahun 1982 bersamaan dengan penurunan sebesar 0,3% pada nilai PDB riil. Defisit tranksasi juga terjadi meningkat terhadap PDB dari 1% ke 6%. Hal ini mengharuskan alternatif kebijakan untuk mengurangi tekanan pada neraca pembayaran.

Rabu, 22 Desember 2010

22/12/2010



Satu hal yang ingin aku katakan. Aku bisa saja berlagak seperti malaikat yang memberimu berjuta-juta tausiyah setiap hari. Jelasnya, itu seperti diriku dulu. Yang memberikan nasehat, mengatakan ini itu dan sebagainya kepada orang lain.

Ya.. Aku cukup tau masalah hati. Aku tau keindahan dan runyamnya masalah hati. Buku-buku mulai dari Aa’ Gym, Habiburrahman, Salim A.Fillah, Ust. Didik, Rabi’ah Al-Adlawiyah, hingga buku-buku seperti chicken soup, Kahlil Gibran, dan sederet penyair cinta lainnya sudah kubaca habis.

Aku dulu bersikap seperti itu. Hingga akhirnya aku sadar, itu semua fana. Semua ucapan yang diberikan dengan alasan sebagai nasehat dan tausiyah bagiku omong kosong. Jika semua itu tak mampu kita tunjukkan dengan tingkah-laku kita sendiri. Bahkan sekarang aku berhati-hati jika ingin menjawab pertanyaan beberapa temanku tentang Islam, bukan karena tidak tau, tapi karena pertanggung-jawaban atas tindakan itu yang mengawang pikiranku.

Aku malu mengatakan semua kebaikan itu jika itu tak mampu aku lakukan. Maaf, ayat yang menyindir orang-orang yang berani mengatakan sesuatu yang tidak bisa mereka kerjakan cukup menghentakku.

Kata-kata memang membentuk dunia. Dan sebuah hati bisa saja luluh dengan sebuah kata-kata. Tetapi buatku, keajaiban kata-kata hanya berujung pada dunia maya. Kebaikan-kebaikan yang kata-kata antarkan hanya bisa menjadi kebaikan jika diantarkan oleh goresan nyata tangan-tangan manusia.