“aku mengenal dikau
tlah cukup lama separuh usiaku
namun begitu banyak
pelajaran yang aku terima
segala kebaikan
takkan terhapus oleh kepahitan
ku lapangkan resah jiwa
karna ku percaya kan berujung indah
kau membuatku mengerti hidup ini
kita terlahir bagai selembar kertas putih
tinggal ku lukis dengan tinta pesan damai
dan terwujud harmoni”
(padi, harmoni)
This is default featured post 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured post 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Minggu, 19 September 2010
Minggu, 05 September 2010
19/5/2010
Mulai menulis lagi, setelah beberapa saat aku berhenti meletakkan gagasan di atas tinta. Aku hanya sakit hati dengan kata, aku kecewa. Dia tak meluncur sebaik aku memikirkannya. Jika aku tak sabar, sudah kumaki saja dia.
Tapi mungkin aku terlalu jahat, menyalahkan sebuah kata yang suci dan tak bernoda. Sesungguhnya, akulah yang salah. Aku yang tak bisa mengerti apa kemauan kata, hanya memikirkan diriku sendiri, dan memaksakan keinginanku terhadap kata.
Maafkan aku kata, Insya Allah, aku ingin berubah. Aku ingin memperlakukanmu murni sebagai kata.
Hari ini aku cukup terenyuh, dengan sebuah kejadian yang luar biasa. "The saftier of the day".
Tapi mungkin aku terlalu jahat, menyalahkan sebuah kata yang suci dan tak bernoda. Sesungguhnya, akulah yang salah. Aku yang tak bisa mengerti apa kemauan kata, hanya memikirkan diriku sendiri, dan memaksakan keinginanku terhadap kata.
Maafkan aku kata, Insya Allah, aku ingin berubah. Aku ingin memperlakukanmu murni sebagai kata.
Hari ini aku cukup terenyuh, dengan sebuah kejadian yang luar biasa. "The saftier of the day".
Kejumudan di Kompleks Perumahan
Mencoba menulis kembali sejak beberapa saat tak menulis. Mood, emang musuh para penulis. Ga ada mood ga ada tulisan. Konsekuensi yang hampir jadi sebuah hukum. Padahal ga bagus juga terlalu tergantung ama mood. Hmph, btw, kangen ma temen-temen FLP nie. Mungkin gara-gara itu juga jadi jarang nulis. Ga ada semangat.
Tapi ga bisa dibiarin. Nie harus mulai menulis lagi. Mulai.
Masalah yang ingin aku jabarkan di sini mengenai kondisi kompleks perumahan seperti perumahan karyawan PKT yang saat ini aku berada di dalamnya. Dari kecil aku hidup di sini. Tapi baru sekarang aku sadar, ada yang kurang tepat. Mungkin karena aku mulai belajar banyak hal ketika kuliah di jogja.
Satu masalah yang sangat menggangguku adalah suasana di sini begitu seragam. Keberagaman tak muncul layaknya pemukiman desa dan iklim kampus UGM. Bagi sebagian orang itu bukan masalah, tapi ga buatku. Coba bayangin, gimana pertumbuhan seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan yang homogen dan seragam??? Jelas mindset dan jalan pikirannya akan mengarah pada kondisi seperti itu. Berbeda halnya jika sejak awal anak dihadapkan pada kondisi yang serba beragam. Pikirannya akan lebih wise dan bijak menerima perbedaan.
Tapi ga bisa dibiarin. Nie harus mulai menulis lagi. Mulai.
Masalah yang ingin aku jabarkan di sini mengenai kondisi kompleks perumahan seperti perumahan karyawan PKT yang saat ini aku berada di dalamnya. Dari kecil aku hidup di sini. Tapi baru sekarang aku sadar, ada yang kurang tepat. Mungkin karena aku mulai belajar banyak hal ketika kuliah di jogja.
Satu masalah yang sangat menggangguku adalah suasana di sini begitu seragam. Keberagaman tak muncul layaknya pemukiman desa dan iklim kampus UGM. Bagi sebagian orang itu bukan masalah, tapi ga buatku. Coba bayangin, gimana pertumbuhan seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan yang homogen dan seragam??? Jelas mindset dan jalan pikirannya akan mengarah pada kondisi seperti itu. Berbeda halnya jika sejak awal anak dihadapkan pada kondisi yang serba beragam. Pikirannya akan lebih wise dan bijak menerima perbedaan.
Kebahagiaan
Apa itu kehidupan? Apa itu hidup? Apa konsekuensi ketika kita hidup? Apa hal yang sewajarnya muncul ketika kita hidup? Apa yang membuat kita begitu menikmati hidup, dan sebaliknya begitu membenci hidup?
Seorang sahabat pernah mempertanyakan sebuah pertanyaan simpel, tetapi dalam. Dia menanyakan, “apa yang membuat kita bahagia?”
Waktu itu aku terdiam, karena aku pun bingung menjawabnya. Jujur, begitu banyak kita berusaha dengan tujuan kebahagiaan.. Namun jarang kita berpikir bahwa usaha yang kita lakukan untuk memperoleh kebahagiaan tidak konsisten dengan tujuan kebahagiaan sebenarnya?
Seorang sahabat pernah mempertanyakan sebuah pertanyaan simpel, tetapi dalam. Dia menanyakan, “apa yang membuat kita bahagia?”
Waktu itu aku terdiam, karena aku pun bingung menjawabnya. Jujur, begitu banyak kita berusaha dengan tujuan kebahagiaan.. Namun jarang kita berpikir bahwa usaha yang kita lakukan untuk memperoleh kebahagiaan tidak konsisten dengan tujuan kebahagiaan sebenarnya?
Langganan:
Postingan (Atom)







